SAJAK DALAM HUJAN
Oleh: Hanifatul Islami
Disudut
ruangan berbentuk kubus berukuran 2x3 meter, dibawah cengkramannya aku masih
saja enggan beranjak dari kediamanku...
Tepat
disudut ruangan tempat aku berdiri sebuah jam dinding menunjukkan pukul 12.00
WIB masih enggan meninggalkan ku yang mampu menunggalkanku siang itu, melalui
suara denting riuh hujan, aku selalu meyakinkan hati ini, bahwa hujan akan
berhenti. Api yang mengamuk pun pasti akan padam. Begitupun keyakinan ku
terhadapnya, laki-laki yang selalu bersamaku. Ah! Kukira hanya aku yang
mengatakan itu, bahkan ku kira aku hanya pendamping dengan sejuta perih yang
menunggunya berbalik dan menghampiriku, dan ia hanya bertahan hanya karena
sebuah makna perjanjian untuk bersama..” fikirku, ia yang setiap hari bergelut
dengan kegiatannya bahkan aku tak mampu berkutik saat ia selalu menyibukkan
kegiatannya yang ia rasa seakan itu dunianya.
Kulihat
jam yang menetap disudut ruangan tempat ku berdiri tepat pukul 3 sore. 2 jam
sudah aku berdiri di sudut ruangan ini. Menunggunya....
Mungkinkah ia tak
ingat ada aku yang sedang menunggunya lewat sebaris doa yang mengharapkan ia
datang sore itu. Atau mungkin ia memang sengaja mengabaikanku? sejuta tanya melayang dipikiranku namun
sekejap semua itu lenyap saat kulihat ia menghampiriku dan tersenyum “maaf, aku
telat” ujarnya, sembari meminum air mineral yang ia genggam “iya tak apa, aku
mengerti dengan semua kesibukanmu” ucapku sambil tersenyum kecil, namun ia tak
pernah tahu bahwa menunggu itu sangat menyakitkan untukku “oh iya, maafkan aku,
aku harus pergi sekarang. Aku sudah mempunyai janji dengan teman-temanku”
balasnya, “iya, gapapa kok ya udah aku pulang dulu ya aku juga udah ada janji
sama mamah untuk mengantarnya membeli keperluan rumah” ucapku, “baiklah, aku duluan.. maaf aku ga bisa mengantar
kamu, hati-hati dijalan ya” balasnya. Sembari melangkahkan kakinya
meninggalkanku
Pukul 6 sore aku tepat berada di kamarku,
sore itu hujan kembali turun, bosan menghampiriku seakan enggan beranjak dari
kediamannya hingga hatiku seakan berjelaga “apa dia tak pernah sadar, aku
menunggunya selama 2 jam, lalu ia datang dan pergi dengan mudahnya begitu saja.
Ia kira menunggu itu mudah bagiku? Kalau bukan karena sayang untuk apa aku
bertahan untuk seorang lelaki yang selalu sibuk dengan dunianya dan bahkan ia
hanya menganggapku hanyalah pendamping
saat ia merasa jenuh“ gumam ku
Keheningan
semakin jauh menerawang diantara penyekat-penyekat waktu yang berlalu begitu
cepat, bosan aku dengan penat, rasanya seperti menghujam dengan seribu ragu,
seharusnya kau mampu memaknai ini kisah bukanlah sumpah hanya karena sebuah
makna perjanjian untuk bersama, makna yang semestinya hadir tergores rapi tak
terusik “andai waktu dapat kubeli dengan lembar lembaran kertas atau bahkan
intan berlian akan kupertaruhkan, aku lebih memilih enggan untuk mencintai nya
dan larut dalam perasaan bersalah “
***
(keesokan hari, waktu istirahat)
Ditaman
depan sekolah aku seperti enggan beranjak dari tempat itu, tiba-tiba terdengar
suara sepatu mengarah menghampiriku, sejenak aku menoleh kearahnya, ya kurasa
dia adalah sahabat ku sebut saja reina, sahabat yang selalu bersama denganku
wanita yang cantik dengan rambut panjang dan bibir tipis yang kurasa ia adalah
dambaan untuk semua pria.
“kenapa kamu rin,
murung terus.. lagi ada masalah ya?” ujar reina, “aku bosan dengan hubungan
ini, aku rasa aku hanyalah pundak yang ia butuhkan saat ia merasa jenuh,
sungguh aku tak mengerti dengan semua keadaan yang selalu membuat ku bergelut
dengan penat” balasku , “maksudmu riko?” tanya reina sembari menepuk pundakku
“yaiyalah siapa lagi kalau bukan dia, menyesal aku telah mencintainya dengan
ketulusan” ujarku. “itulah wanita yang dia punya cuma ketulusan, tanpa dia
sadar dia telah dibodohi oleh sebuah kalimat manis namun mampu membuat perasaan
seseorang melayang.. kaya kamu” jawabnya, sembari tersenyum manis padaku “apa
maksudmu berbicara seperti itu?” jawabku sembari menatap tajam wajah reina “Apa
kamu terlalu fokus mencintainya dengan ketulusan sampai mata kamu tertutup
untuk mengenalnya lebih dalam? kamu ga
pernah sadar dia telah bosan denganmu?” tanya reina “apa maksud mu dia telah
bosan dengan ku?”tanyaku , “dengarkan aku baik-baik ya... ku rasa ini waktu
yang tepat untuk ku ceritakan semuanya padamu, 2 pekan lalu aku melihatnya
jalan dengan wanita lain, aku kira wanita itu hanya sebatas saudara atau keluarganya,
ku fikir awalnya begitu... namun aku membuntuti nya sampai akhirnya aku
mendengar semua percakapan nya dengan wanita itu. Bahwa dia telah bosan dengan
mu!!” balas reina, “heheheh aku memang tak secantik wanita diluar sana, mungkin
itulah alasan dia bosan dengan ku. Jujur akupun merasakan hal yang sama dengan
apa yang kau ceritakan padaku. Semua fikiran itu terus melayang difikiran ku,
entah karena aku terlalu mencintainya hingga aku dengan mudahnya begitu saja
menutup mataku dari pandangannya“ jawabku, “ran semua keputusan ada ditanganmu
, kau tahu? Bahwa Allah saat ini sedang memberi teguran kepadamu. Tidakkah kamu
sadari bahwa Allah cemburu kamu lebih mencintai yang lain daripada Penciptamu?”
ujar reina “kau benar rein setelah pulang sekolah aku akan menemui dia untuk
berbicara padanya”
***
(sore hari, disebuah taman)
Langit hitam
pekat, angin bertengkar dengan awan, dengan pita-pita cahaya yang menggelegar seperti
ingin mengeluarkan isinya, tak bisa ku menunggu waktu yang ku anggap tepat
lagi, ku rasa ini benar-benar waktunya, walau hatiku teriris aku berharap aku
tak membisu dihadapannya, kuharap hujan
tak akan mengekang raga dan menahan langkahku juga jadikan aku seolah berjalan
dilorong hitam tanpa harapan. Sampai aku mampu meninggalkan kata terakhir
diujung lidah tanpa makna. Dan meninggalkan sebuah kenangan tanpa luka.
“ada apa kau ingin
bertemu denganku” tanya riko sembari dia menatap tajam mataku
“aku tau kau telah
bosan dengan ku” jawabku “aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan, kenapa
kamu tiba-tiba berbicara seperti itu?” tanya riko “ku mohon tak perlu lagi
berbohong pada ku, jangan tutupi perasaan mu. Jika niatmu ingin membuatku tak
kecewa dengan mu... kau salah!!! Sungguh aku tersiksa berada diposisi seperti
ini. Mungkin bibir ku tersenyum, dan berkata aku kuat, tapi ketahuilah hatiku
hancur dengan semua kebohongan dan penghianatanmu!!” jawabku “baiklah akan ku
katakan semua nya.. maafkan aku karena aku telah bosan dengan mu, itu semua bukan
keinginan ku.. entah mengapa perasaan ini muncul saat aku bertemu dengan nya”
jelas Riko “kau tahu? Jika ada sebagian waktu yang bisa kuulang kembali, aku
ingin mengulang semua waktu yang pernah kumiliki denganmu!! Karena aku
menyesali akhir kisah kita yang tak seindah yang ku harapkan” ujarku “satu hal
yang harus kamu tahu, kenangan kita nggak perlu kamu hilangkan, biarkan semua
itu tetap tinggal bersama ingatan meski kadang ia datang pada saat waktu yang
tak pernah kau inginkan” balas riko “tahu apa kamu tentang sebuah kenangan,
menjaganya walau satu bagian kecil pun kamu tak mampu, memang perkataan mu
benar, namun apa kau tahu? cinta datang dengan segala bahagia nya juga
sedihnya, Saat seseorang ingin menenangkan hatinya dari luka yang baru saja
mengiris memang seharusnya ia menjauh dari semua tempat kenangan yang pernah
membuatnya bahagia” balasku
“Entah harus dari mana lagi aku
memulai dan mengakhiri semua penjelasanku, namun satu hal yang harus kau ingat,
jadikan kenangan kita merupakan sebuah pengalaman bagimu jadikan semua
perbuatanku sebagai guru untuk menata masa depanmu, seburuk apapun hal yang aku
lakukan padamu percayalah... aku tak pernah berencana membuatmu larut dalam rasa
penyesalan akan kehadiran diriku sehingga pilu dan penat menghampiri setiap
alur kehidupanmu.” Bantah Riko sembari menatap tajam kearahku dalam derasnya
hujan diantara penyekat-penyekat di batas pergantian waktu.
“Sudahlah.. luka yang kau goreskan
sudah terlalu dalam, tak perlu mencari alasan-alasan untuk menyanggah dan
menentang akan semua keburukan yang kau buat, memang seharusnya kita tidak
menjalani hubungan ini sejak awal. Disinilah kita harus mengakhiri sebuah
hubungan yang tak seharusnya kita jalani. harusnya kita sadari komitmen yang
kita miliki sangatlah jauh dari ketetapan suatu hubungan. Tak perlu menyalahkan
hidup ini yang mempertemukan kita hanya untuk sementara. Kata yang indah untuk
mengakhiri sebuah hubungan ini, tetaplah pada komitmen yang kuat tak perlu
menjauh untuk sebuah akhir yang tak diharapkan.. BERMUHASABAH DIRI semoga kita
mendapati seseorang yang kelak akan membawa kita menjadi seseorang yang lebih
baik sehingga kita tak perlu bertolak belakang dari sebuah komitmen yang telah menjadi
ketetapan-Nya”
Akhirnya sebuah komitmen yang telah
ditetapkan keduanya menjadi salah satu akhir dari suatu hubungan yang tak
berarti dan tak bermakna. Hubungan yang berakhir dengan sebuah kalimat
“BERMUHASABAH DIRI” menjadi suatu landasan dalam akhir kisah yang pahit namun
penuh makna di dalam nya untuk menentukan sebuah langkah perjuangan dalam
melanjutkan sebuah kehidupan.