SEPENGGAL
KISAH SEBUAH PENYESALAN
Oleh:
Septiana Choirunnisa
“Kurasakan hembusan angin pagi yang
menyapaku melalui desirannya hingga aku terbangun dari lelapnya tidur yang menyelimutiku
bersama mimpi indah,”fikirku. Aku adalah seorang gadis yang masih menimba ilmu
dibangku SMK. Aku merupakan putri tunggal, maka tak heran jika aku selalu
diprioritaskan oleh keluargaku. Bergelut
dengan buku merupakan kegiatan yang seringkali aku lakukan disetiap
detik waktu luang.
Tepat di sudut ruangan, jam dinding
menunjukkan pukul 06.45 WIB yang mengharuskanku agar segera beranjak untuk pergi
ke sebuah tempat dimana aku harus menempuh pendidikan.
“BERPACARAN” merupakan suatu hal yang
bertolak belakang dari prinsip orangtuaku. Bagi mayoritas remaja, hal itu
mungkin dianggap sebagai hal yang lazim dan biasa dilakukan. Orangtuaku sangat tidak ingin putri satu-satunya ini
berpacaran.
***
Pada saat jam istirahat, terdengar langkah
kaki yang mulai mendekat ke arahku dan aku kenal betul suara langkah kaki
tersebut. Sekejap aku menoleh ke arah langkah kaki itu dan mendapati sesosok gadis
yang sudah lama ku kenal sejak menempuh
jenjang pendidikan SMK. Sebut saja Via. Sahabat yang setia menemaniku dalam
setiap keadaan.
“ eh Nay, aku pengen nanya dong sama kamu.
Kenapa sih kamu nggak pernah pacaran.” Kata Via.
“ karena aku pengen fokus sama sekolahku,
lagipula orangtuaku tidak akan mengizinkan aku berpacaran.” Jawabku
“ padahal pacaran tuh enak loh...bisa
bikin kita nambah semangat belajarnya, apalagi kalau pacar kita orang yang
smart,” sambungnya.
“ ah aku tidak pernah terfikir untuk
berpacaran.” Timpalku dengan nada kesal.
Selepas
Via meninggalkanku, sejenak terlintas di fikiranku sejuta pertanyaan akan hal
itu.
(Beberapa
hari kemudian)
Bel istirahat telah mengakhiri
pembelajaran. Aku segera bergegas ke kantin untuk menikmati waktu istirahatku.
Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri tempatku singgah. Ia mengaku bernama
Stevano. Seketika aku terkejut. Pria yang tak pernah ku kenal sebelumnya
mengajakku berbincang-bincang agar lebih dekat dengannya, hingga aku terlarut
dalam suasana yang nyaman.
“ Nay, sejujurnya aku menyukaimu sejak
pertama aku melihatmu dalam lomba matematika kala itu.” Ungkapnya.
Kata-kata itu membuat detak jantungku
berdegup lebih kencang.
(Bel
masuk berbunyi)
“ emm...maaf ya aku harus pergi
sekarang.” Jawabku dengan suara terbata-bata sembari melangkahkan kaki untuk
meninggalkannya.
(Sepulang
sekolah)
Tepat pukul 20.00 WIB handphone ku
berdering menandakan sebuah pesan masuk. Ketika kubuka pesan tersebut, sebuah
nomor yang tak ku kenal memberiku sepenggal kata mengenai perasaannya. "
entah harus bagaimana aku memulai kata-kata, tasa yang tak bisa ku jelaskan dari
lubuk hatiku. Berat rasanya untuk ungkapkan rasa ini. Aku Stevano, ingin
meminta jawaban atas pertanyaanku kepadamu siang tadi.”
Spontan saja aku membalas pesan darinya,
“jujur sesungguhnya aku selalu terfikir tentangmu. Entah perasaan apa yang
timbul yang jelas aku merasa nyaman saat di dekatmu.” Balasku
“ apakah kamu menyukaiku ?”
“ kurasa begitu. Aku tak pernah
merasakan hal ini sebelumnya.”
“ aku fikir dari apa yang kamu jelaskan
kita saling menyukai. So , maukah kamu lebih dekat denganku ?”
“ baiklah. Selagi aku nyaman denganmu
mengapa tidak ?”
Perbincangan berlalu karena waktu menjadi
penyekat diantara kami.
***
2 bulan berlalu, hubungan ini baik-baik
saja. Namun, lambat laun orangtuaku mengetahui hubungan ini. Rasa kecewa yang
menggebu-gebu menjadikan amarah kedua orangtuaku memuncak seakan tak
terkendali.
“ Nayza kamu ini sudah dewasa, seharusnya
kamu tahu apa aturan dan larangan Ayah Ibumu!!!”
Selepas Ayah dan Ibu meluapkan emosinya,
orangtuaku bersikap dingin padaku. Semua ini menjadikanku merenung untuk
berintrospeksi diri. Rasa penyesalan muncul dalam diriku ketika orangtuaku
mengatakan bahwa mereka telah gagal mendidikku. Andai saja aku tidak melakukan
hal ini, mungkin mungkin orangtuaku tidak akan bersikap dingin padaku. Akhirnya
aku memutuskan untuk menenangkan diri dengan membaca buku. Aku mengambil sebuah
buku yang bertajuk “udah putusin aja“.
Ketika aku membacanya aku merasa buku ini akan membantu menyelesaikan
masalah yang kuhadapi saat ini.
1 jam sudah aku memahami dan memaknai
setiap kalimat yang terkandung di dalamnya. Sejenak terlintas di fikiranku,
mungkin Ia tak seharusnya hadir dalam hidupku dan kini aku memutuskan untuk
mengakhiri sebuah hubungan tanpa ikatan dan komitmen yang pasti.
“ Van, sebelumnya aku mohon maaf, aku
tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kita harus mengakhiri hubungan ini, namun
aku harap kita bisa menjadi sahabat.” Ungkapku melalui sebuah pesan.
“ mengapa tiba-tiba kau mengakhiri
hubungan ini ? apa alasanmu ?” balasnya
“ aku hanya inign menuruti semua
perintah dan larangan orangtuaku, karena dengan adanya hubungan ini mereka
merasa bahwa mereka telah gagal dalam mendidikku.” Balasku dengan perasaan
bimbang
“ baiklah jika itu alasanmu. Aku
percaya jika memang kita ditakdirkan untuk bersatu pasti kita akan dipersatukan
oleh Sang Pencipta suatu saat nanti.” Jawabnya
“ terimakasih atas pengertianmu.”
Akhirnya mereka mengakhirinya dengan
cara yang baik. Mulai saat ini aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama
untuk kedua kalinya, hingga aku menemukan pria yang benar-benar tepat untuk
menjadi pendamping hidupku.